Gianyar Bali Regency

Posted by Lambang Insiwarifianto Tuesday, October 07, 2008 0 komentar

Kabupaten Gianyar yang berbatasan dengan Denpasar, Bangli, dan Klungkung, sering ditempatkan sebagai wilayah yang menyimpan sumber inspirasi pengembangan seni budaya. Karawitan, tari, seni kriya, dan berbagai cabang seni lainnya diyakini berkembang dari wilayah Gianyar. Hal ini tak terlepas dari kedudukan wilayah Gianyar di masa lalu sebagai pusat pemerintahan kerajaan saat peralihan sebelum dan awal era Majapahit.
Kawasan Bedahulu dan Pejeng di utara Gianyar tercatat dalam sejarah sebagai pusat pemerintahan sebelum jaman Majapahit sedangkan Samplangan di timur Gianyar adalah pusat pemerintahan saat awal kekuasaan Majapahit merangkul Bali. Di masa-masa penjajahan Belanda dan jaman kemerdekaan, wilayah Ubud, Peliatan, Masa, dan sekitarnya kian kuat mengarah sebagai pusat pengembangan seni budaya. Dapat dipastikan, sepanjang jaman, Gianyar amat lekat bergelut dengan seni budaya.
Dengan luas wilayah meliputi 36.800 ha, dibandingkan dengan Denpasar sebagai kota dagang dengan kepadatan tinggi di pusat kota, kepadatan Gianyar justru mengarah ke daerah pinggir yang merupakan kawasan wisata terutama di daerah Kecamatan Ubud. Di sisi barat Gianyar, yang meliputi kawasan Sayan hingga ke Payangan, telah berkembang menjadi daerah hunian wisata berkelas butik hotel yang mengutamakan privasi sedangkan daerah pusat Ubud berkembang jenis pension dan homestay yang berbaur dengan penduduk asli. Daerah lain di Gianyar, yang bukan merupakan daerah hunian wisata, berkembang menjadi kawasan lain di Gianyar seolah saling dukung dan melengkapi dalam membentuk Gianyar sebagai kota budaya dan pariwisata.


Bungy Jumping Blangsinga

Dengan semakin meningkatnya kunjungan wisatawan yang datang ke Pulau Bali khususnya ke Kabupaten Gianyar, pelaku kepariwisataan harus mampu menyediakan dan mengembangkan bermacam–macam atraksi yang diperlukan untuk konsumsi para wisatawan, terutama wisatawan mancanegara.
Untuk mengantisipasi hal itu kini di Desa Blangsinga, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten daerah Tingkat II Gianyar, tepatnya di lembah Air Terjun Tegenungan, telah berdiri Bungge Jumping, yaitu tempat atraksi bagi wisatawan yang senang terjun dari ketinggian kurang lebih 50 meter. Tempat ini sangat tepat untuk atraksi karena alam sekitarnya masih asli dan areal terjunnya leluasa, sehingga kemungkinan bahaya yang timbul sangat kecil.


Desa Batubulan (Batubulan Village)

Tempat ini adalah sebuah desa dalam ruang lingkup Kecamatan Sukawati Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar Propinsi Daerah Tingkat I Bali. Desa Batubulan pada awalnya terkenal sebagai satu desa agraris yang kaya akan kesenian termasuk Seni Tari dan Seni Ukir. Struktur masyarakat dan kebudayaan agraris yang dijiwai oleh Agama Hindu menjadi dasar dari kehidupan masyarakat Desa Batubulan. Batubulan sangat terkenal sebagai 0byek Wisata Tari Barong yang khas. Desa ini terletak pada jalur Denpasar-Gianyar kira-kira 10 km dari Denpasar dan 21 km dari Gianyar. Setiap harinya para wisatawan mancanegara maupun Nusantara menyaksikan tarian barong di lima tempat pertunjukan. Disamping itu para wisatawan juga dapat melihat para pematung batu padas membuat patung-patung untuk dekorasi rumah hotel, perempatan jalan, jembatan maupun pura.


Desa Belega dan Bona (Belega and Bona Village)

Desa Belega termasuk Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar, sedangkan Banjar/Dusun Bona merupakan wilayah Desa Belega. Yang sangat menarik dari Desa Belega ini adalah, desa ini terkenal sebagai pusat kerajinan dari bambu, yang antara lain berupa : kursi, tempat tidur, meja hias, almari dan lain-lainnya.Sedangkan Desa Bona terkenal sebagai pusat kerajinan dari daun lontar dan tari kecaknya.
Hampir setiap hari Desa Belega dan Bona ini dikunjungi wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara yang ingin membeli atau memesan kerajinan bambu atau daun lontar untuk keperluan rumah tangga atau hotel/restaurant. Di samping itu Bona juga terkenal dengan tari kecaknya yang mengambil ceritera Ramayana. Setelah pertunjukan tari kecak, dipertunjukkan juga tari Sang Hyang Dedari yang ditarikan oleh 2 orang gadis kecil dalam keadaan tidak sadar (trance), dan terakhir dipertunjukkan Tari Sang Hyang Jaran, dimana seorang laki-laki menari sambil menendang bara api yang sangat besar dengan kaki telanjang.


Desa Mas (Mas Village)

Desa Mas sudah terkenal akan kesenian, kerajinan ukir-ukiran, patung dan lain-lainnya sejak jaman dahulu sampai sekarang. Letak Desa Mas sangat strategis, karena berada pada jalur pariwisata, oleh karena itu Desa Mas termasuk salah satu Obyek Wisata yang menarik di Daerah Gianyar bagian Barat.
Desa Mas ini sehari-hari banyak dikunjungi oleh wisatawan mancanegara maupun Nusantara untuk melihat dan membeli hasil industri kerajinan masyarakat Desa Mas. Seorang Brahmana dari Majapahit, yang tidak betah lagi tinggal disana, datang ke Bali karena masih kuat ingin mempertahankan Agama Hindu yang didesak oleh Agama Islam. Beliau ini disebut Pedanda Sakti Bawu Rauh atau dengan nama lain Danghyang Nirarta atau Danghyang Dwijendra. Selama beliau di Desa Mas, beliau banyak memberikan pelajaran dan pengetahuan baik dibidang agama, sosial, seni budaya dan lain-lainnya kepada Mas Wilis.Setelah Mas Wilis mendalami semua pelajaran dan pengetahuan yang diberikan, lalu diadakan pendiksaan oleh Pedanda Sakti Bawu Rauh dan ia diberi gelar Pangeran Manik Mas. Sebagai bukti bakti untuk menghormati jasa-jasanya, Pangeran Manik Mas membuat pesraman atau Geria dengan segala perlengkapannya untuk Pendanda Sakti Bawu Rauh. Demikian pula Pedanda Sakti Bawu Rauh untuk memperingati kejadian ini, (sebagai bukti), beliau menancapkan tongkat tangi (pohon tangi) yang masih hidup sampai sekarang yang terletak di jaba tengah Pura Taman Pule Mas. Sejak saat itu beliau memberi nama desa ini Desa Mas. Disamping itu Pangeran Manik Mas mempersembahkan putrinya yang bernama Ayu Kayuan (Mas Gumitir), dari perkawinannya dengan Mas Gumitir menurunkan Brahmana Mas yang tinggal di Desa Mas sekarang ini.


Desa Peliatan (Peliatan Village)

Desa Peliatan sebagai obyek wisata di Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar banyak dikunjungi oleh para wisatawan Mancanegara maupun Nusantara untuk membeli hasil kerajinan rakyat maupun menonton pertunjukan keseniannya, disamping karena letaknya sangat dekat dengan Ubud. Desa Peliatan memiliki potensi yang cukup baik dalam bidang seni budaya dan gudangnya para seniman. Di desa ini tumbuh dan berkembang dengan suburnya berbagai kegiatan seni, baik seni tari, seni patung, seni ukir maupun seni lukis. Di Desa Peliatan hidup tokoh-tokoh seni.Tokoh-tokoh seni tabuh yang cukup banyak pengalaman dan terkenal di tingkat Nasional maupun International seperti : Anak Agung Gede Mandra, I Wayan Gandra, I Wayan Gerindem dan I Made Lebah, semuanya bergabung dalam sekeha Gong Gunung Sari Desa peliatan yang cukup punya andil untuk merangsang para wisatawan lebih bergairah datang ke Bali pada umumnya maupun ke Desa Peliatan pada khususnya.
Tidak jarang diantara mereka ikut merasakan seni dan ikut berperan sebagai penabuh. Mereka belajar menari dan menabuh dengan guru-guru. Di bidang seni lukis, ukir maupun patung, Desa Peliatan juga memiliki potensi yang cukup tinggi. Perkembangan seni lukis maupun seni patung sudah berkembang sejak masuknya Agama Hindu.


Desa Sebatu dan Pujung (Sebatu and Pujung Villages)

Desa Sebatu terletak di sebelah Utara Desa Tegallalang, Kecamatan Tegallalang, sedangkan Banjar atau Dusun Pujung termasuk wilayah Desa Sebatu. Dari desa Peliatan, arah Desa Sebatu adalah ke Utara, dan di lokasi itulah banyak sekali para pematung yang di sepanjang jalan ngobrol sambil tangan mereka sibuk mengukir kayu dengan pisau kecil. Dan di Desa Sebatu terletak di sebelah Utara Desa Tegallalang, Kecamatan Tegallalang, sedangkan Banjar atau Dusun Pujung termasuk wilayah Desa Sebatu. Dari desa Peliatan, arah Desa Sebatu adalah ke Utara, dan di lokasi itulah banyak sekali para pematung yang di sepanjang jalan ngobrol sambil tangan mereka sibuk mengukir kayu dengan pisau kecil. Dan di Desa Adat Sebatu ini terdapat sebuah Pura Gunung Kawi Sebatu.
Desa Sebatu dan Pujung banyak dikunjungi oleh para wisatawan Mancanegara maupun Nusantara dan tujuan mereka adalah untuk melihat serta membeli hasil-hasil kerajinan masyarakat yang berupa pohon pisang, buah-buahan, bunga-bungaan, patung antik, patung Garuda dan lain-lainnya yang terbuat dari kayu. Di wilayah Desa Sebatu banyak ditemui bukti-bukti kekunaan. Bukti-bukti tersebut diantaranya adalah Lingga di beberapa pura, upacara-upacara yang tidak memakai Pedanda, dan juga tidak adanya Padmasana pada pura-pura di lingkungan wilayah desa ini. Nama Sebatu sendiri telah dikaitkan dengan cerita yang termuat dalam lontar Usana Bali yaitu cerita Mayadenawa. Ketika terjadi peperangan antara Mayadenawa dan Betara Indra, pada saat Mayadenawa telah mengalami kekalahan ia menarik diri ke Utara. Mungkin karena kepayahan, sementara musuh tetap mengejar, terpelesetlah kakinya pada sebuah batu. Dalam bahasa Bali terpeleset berarti nyauh atau sauh. Karena terpeleset pada batu, kemudian tempat ini diberi nama Sauh Batu. Karena dengan berkembangnya masa kata Sauh Batu diubah menjadi Sebatu. Desa Sebatu dan Pujung banyak dikunjungi oleh para wisatawan Mancanegara maupun Nusantara dan tujuan mereka adalah untuk melihat serta membeli hasil-hasil kerajinan masyarakat yang berupa pohon pisang, buah-buahan, bunga-bungaan, patung antik, patung Garuda dan lain-lainnya yang terbuat dari kayu. Di wilayah Desa Sebatu banyak ditemui bukti-bukti kekunaan. Bukti-bukti tersebut diantaranya adalah Lingga di beberapa pura, upacara-upacara yang tidak memakai Pedanda, dan juga tidak adanya Padmasana pada pura-pura di lingkungan wilayah desa ini. Nama Sebatu sendiri telah dikaitkan dengan cerita yang termuat dalam lontar Usana Bali yaitu cerita Mayadenawa. Ketika terjadi peperangan antara Mayadenawa dan Betara Indra, pada saat Mayadenawa telah mengalami kekalahan ia menarik diri ke Utara. Mungkin karena kepayahan, sementara musuh tetap mengejar, terpelesetlah kakinya pada sebuah batu. Dalam bahasa Bali terpeleset berarti nyauh atau sauh. Karena terpeleset pada batu, kemudian tempat ini diberi nama Sauh Batu. Karena dengan berkembangnya masa kata Sauh Batu diubah menjadi Sebatu. Desa Sebatu terletak di sebelah Utara Desa Tegallalang, Kecamatan Tegallalang, sedangkan Banjar atau Dusun Pujung termasuk wilayah Desa Sebatu. Dari desa Peliatan, arah Desa Sebatu adalah ke Utara, dan di lokasi itulah banyak sekali para pematung yang di sepanjang jalan ngobrol sambil tangan mereka sibuk mengukir kayu dengan pisau kecil. Dan di Desa Adat Sebatu ini terdapat sebuah Pura Gunung Kawi Sebatu. Desa Sebatu dan Pujung banyak dikunjungi oleh para wisatawan Mancanegara maupun Nusantara dan tujuan mereka adalah untuk melihat serta membeli hasil-hasil kerajinan masyarakat yang berupa pohon pisang, buah-buahan, bunga-bungaan, patung antik, patung Garuda dan lain-lainnya yang terbuat dari kayu. Di wilayah Desa Sebatu banyak ditemui bukti-bukti kekunaan. Bukti-bukti tersebut diantaranya adalah Lingga di beberapa pura, upacara-upacara yang tidak memakai Pedanda, dan juga tidak adanya Padmasana pada pura-pura di lingkungan wilayah desa ini. Nama Sebatu sendiri telah dikaitkan dengan cerita yang termuat dalam lontar Usana Bali yaitu cerita Mayadenawa. Ketika terjadi peperangan antara Mayadenawa dan Betara Indra, pada saat Mayadenawa telah mengalami kekalahan ia menarik diri ke Utara. Mungkin karena kepayahan, sementara musuh tetap mengejar, terpelesetlah kakinya pada sebuah batu. Dalam bahasa Bali terpeleset berarti nyauh atau sauh. Karena terpeleset pada batu, kemudian tempat ini diberi nama Sauh Batu. Karena dengan berkembangnya masa kata Sauh Batu diubah menjadi Sebatu. Desa Sebatu terletak di sebelah Utara Desa Tegallalang, Kecamatan Tegallalang, sedangkan Banjar atau Dusun Pujung termasuk wilayah Desa Sebatu. Dari desa Peliatan, arah Desa Sebatu adalah ke Utara, dan di lokasi itulah banyak sekali para pematung yang di sepanjang jalan ngobrol sambil tangan mereka sibuk mengukir kayu dengan pisau kecil. Dan di Desa Adat Sebatu ini terdapat sebuah Pura Gunung Kawi Sebatu. Desa Sebatu dan Pujung banyak dikunjungi oleh para wisatawan Mancanegara maupun Nusantara dan tujuan mereka adalah untuk melihat serta membeli hasil-hasil kerajinan masyarakat yang berupa pohon pisang, buah-buahan, bunga-bungaan, patung antik, patung Garuda dan lain-lainnya yang terbuat dari kayu. Di wilayah Desa Sebatu banyak ditemui bukti-bukti kekunaan. Bukti-bukti tersebut diantaranya adalah Lingga di beberapa pura, upacara-upacara yang tidak memakai Pedanda, dan juga tidak adanya Padmasana pada pura-pura di lingkungan wilayah desa ini. Nama Sebatu sendiri telah dikaitkan dengan cerita yang termuat dalam lontar Usana Bali yaitu cerita Mayadenawa. Ketika terjadi peperangan antara Mayadenawa dan Betara Indra, pada saat Mayadenawa telah mengalami kekalahan ia menarik diri ke Utara. Mungkin karena kepayahan, sementara musuh tetap mengejar, terpelesetlah kakinya pada sebuah batu. Dalam bahasa Bali terpeleset berarti nyauh atau sauh. Karena terpeleset pada batu, kemudian tempat ini diberi nama Sauh Batu. Karena dengan berkembangnya masa kata Sauh Batu diubah menjadi Sebatu.


Desa Sidan (Sidan Village)

Obyek Wisata Alam Sidan terletak di Desa Sidan Kecamatan Gianyar Kabupaten Gianyar, tepatnya 4 Km, dari Kota Gianyar ke arah Kota Bangli dan 31 Km. Dari Kota Denpasar. Konon Desa Sidan (Kerajaan Sidan) berada di Dusun Pegesangan (kurang lebih 1 km. di sebelah Selatan Desa Sidan sekarang) dan karena sesuatu hal maka kerajaan tersebut dipindahkan (kekisidan) ke Utara, yang sampai saat ini dikenal dengan nama Desa Sidan. Secara alami Desa Sidan memang memiliki panorama yang sangat indah, karena berada di areal bebukitan yang lepas pandang. Disamping alamnya Desa Sidan juga memiliki beraneka ragam obyek wisata, baik yang berupa peninggalan purbakala maupun yang baru dibangun antara lain :

  1. PURA DALEM SIDAN
    Pura Dalem Sidan didirikan sekitar abad 17 oleh tetua dari Puri Sidan yaitu I Dewa Gede Pindi (almarhum), yang selanjutnya pada tahun 1948 direnovasi kembali oleh putranya yang bernama I Dewa Kompyang Pindi (almarhum). Pura Dalem Sidan tidak jauh berbeda dengan pura lainnya, tetapi pura ini mempunyai keunikan tersendiri, karena disamping kemegahannya, juga dihiasi dengan beraneka ragam relief dan ukiran yang khas dan sarat dengan filosofi Agama Hindu.
  2. PURA BUKIT CAMPLUNG
    Lebih kurang 100 Meter kearah Timur Laut dari Pura Dalem Sidan terdapat sebuah Pura yang bernama Pura Bukit Camplung, yang berdiri megah diatas tebing, dimana tebing –tebing tersebut penuh dengan tulisan – tulisan kuna, yang sampai saat ini belum diketahui asal muasal tulisan tersebut. Di tebing sebelah Utara terdapat selokan mata air kecil yang sangat dikeramatkan karena dipercaya masyarakat sekitarnya dapat menyembuhkan penyakit kulit. Konon di pura ini juga para Dewata menganugrahkan Gambelan Angklung Sidan yang sudah sangat terkenal sampai ke Manca Negara. Pura Bukit Camplung juga disebut Pura Masceti, karena masyarakat Pengemongnya adalah 9 subak (Organisasi Klasik Petani Bali) di Desa Sidan.
  3. STAGE BARONG SIDAN
    Disebelah Barat Pura Dalem Sidan tepatnya di areal teras persawahan yang sangat indah, telah dibangun stage pertunjukan untuk menyajikan kesenian – kesenian yang berasal dari Kabupaten Gianyar. Saat ini Wisatawan yang ingin menyaksikan Barong khas Stage Sidan (Pertunjukan Barong Taru Pramana) dapat memesan langsung ke Kantor Dinas Pariwisata Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar.

Demikian sebagian kecil penjelasan mengenai Alam Sidan, bila kita masuk ke obyek Wisata Alam Desa Sidan maka akan kita saksikan Sidan secara keseluruhan dan diyakini dapat menikmati keindahan Alam yang masih alami.


Gunung Kawi Tampaksiring

Setelah melewati Gapura dan 315 anak tangga di pinggir sungai Pakerisan yaitu sebuah sungai yang mempunyai nilai sejarah yang sangat tinggi, terletak komplek candi Gunung Kawi. Obyek wisata ini termasuk wilayah Tampaksiring 40 km dari Denpasar. Mengenai nama Gunung Kawi ini belum diketahui dengan pasti asal mulanya. Namun secara etimologi dikatakan berasal dari kata Gunung dan Kawi, yang berarti gunung adalah daerah pegunungan dan Kawi berarti pahatan. Jadi maksudnya ialah pahatan yang terdapat di pegunungan atau di padas karang. Menurut sejarahnya diantara raja – raja yang memerintah di Bali yang paling terkenal adalah Dinasti Warmadewa. Raja Udayana adalah merupakan dinasti ini dan beliau adalah anak dari Ratu Campa yang diangkat anak oleh Warmadewa. Setelah dewasa Udayana nikah dengan Putri Jawa yang bernama Gunapriya Dharma Patni. Dari perkawinannya ini menurunkan Erlangga dan Anak Wungsu. Akhirnya setelah Erlangga wafat tahun 1041, kerajaanya di Jawa Timur dibagi Dua. Pendeta Budha yang bernama Empu Baradah dikirim ke Bali agar pulau Bali diberikan kepada salah satu Putra Erlangga, tetapi ditolak oleh Empu Kuturan. Selanjutnya Bali diperintah oleh Raja Anak Wungsu antara tahun 1029 – 1077 dan dibawah perintahnya Bali merupakan daerah yang sangat subur dan tentram. Setelah beliau meninggal dunia abunya disimpan dalam satu candi di komplek Candi Gunung Kawi. Tulisannya yang terdapat diatas pintu semu yang berbunyi : Haji Lumah Ing Jalu yang berarti Sang Raja dimakamkan di Jalu sama dengan Susuh dari (ayam jantan) yang bentuknya sama dengan Kris maka perkataan Ing Jalu dapat ditafsirkan sebagai petunjuk Kali Kris atau Pakerisan. Raja yang dimakamkan di jalu dimaksud adalah Raja Udayana. Sedangkan tulisan Rwa Anakira yang berarti Dua Anaknya kemungkinan yang dimaksud makam Raja Udayana, Anak Wungsu dan Empat orang Permaisuri Raja serta Perdana Mentri Raja. Diseberang Tenggara atau dari komplek candi ini terletak Wihara (tempat tinggal atau asrama para biksu/pendeta Budha). Peninggalan candi dan wihara di Gunung Kawi ini diperkirakan pada abad 11 Masehi.


Lembu Putih dan Gajah Taro (White Cow and Elephant Taro)

Di Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar, kurang lebih 40 Km. Dari Kota Denpasar, ada sebuah hutan desa yang dihuni oleh sekelompok binatang sapi/lembu putih. Binatang ini sangat dikeramatkan dan disucikan oleh masyarakat sekitarnya maupun masyarakat Bali pada umumnya, karena binatang ini merupakan sarana pelengkap (saksi) upacara di Bali yaitu Ngasti (dan yang setingkat dengan upacara itu). Lembu Putih ini dibawa ke tempat upacara dan oleh penyelenggara upacara dituntun mengelilingi areal/tempat upacara mulai dari arah timur ke selatan dan seterusnya berkeliling sebanyak tiga kali, kemudian berakhir atau selesai di timur. Upacara ini disebut dengan Upacara Mepada (Maideran/Purwa Daksina). Setelah Upacara tersebut selesai Lembu Putih dikembalikan lagi ke hutan Desa Taro, tentunya sebelum dan sesudahnya telah disuguhi berbagai sesajian. Tetapi dengan keindahan alam pedesaan Taro yang sangat menarik, dewasa ini atas usaha seorang investor dan tentunya dengan persetujuan dari Pihak Pemerintah Daerah Tingkat II Gianyar, di sebelah areal hutan sapi/lembu putih Taro, juga telah dikembangkan sebuah atraksi wisata baru yaitu Trakking Gajah. Para wisatawan dapat menaiki gajah berkeliling hutan dengan melewati lorong / jalan setapak di sekitar Desa Taro. Bila diinginkan wisatawan dapat berenang (bermain di air) dengan gajah didalam kolam yang sudah tersedia.


Lingkungan Pura Penataran Sasih (Penataran Sasih Temple)

Pra Hindu. Lingkungan pura ini berlokasi di tengah-tengah Desa Pejeng di tepi jalan raya menuju Tampak Siring. Lingkungan Pura Penataran Sasih hingga saat ini telah banyak dikunjungi oleh para wisatawan mancanegara, baik untuk tujuan melihat-lihat maupun untuk penelitian.


Lingkungan Pura Pusering Jagat (Pusering Jagat Temple)

Lingkungan Pura ini dianggap sebagai Pusat Dunia, dimana di sini terdapat sejumlah arca-arca kuno seperti Arca Catuh Kaya dan lain-lainnya. Lingkungan pura ini terletak di Desa Pejeng, tepatnya di sebelah utara lingkungan Pura Kebo Edan. Dan Lingkungan Pura ini pun tak ketinggalan banyak dikunjungi oleh para wisatawan karena letaknya sangat strategis yaitu di komplek wisata purbakala yang lain. Bejana merupakan sebuah benda kekunaan terpenting di lingkungan ini, benda ini terbuat dari batu dengan relief yang menggambarkan para dewa mencari Tirta Amerta. Bejana ini memuat tahun Candra Sangkala 1251 Caka (1329 Masehi), yang menunjukkan masa kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Tahun 1952 arca yang retak telah diperbaiki, dan baru-baru ini bangunan pelindungnya telah dipugar kembali oleh suaka peninggalan sejarah dan purbakala Bali. Oleh Belanda ini disebut juga Sangku Sudamala. Kecuali itu di dalam lingkungan pura ini terdapat juga Gedong Purus, tempat tersimpannya sebuah Lingga dan sebuah Yoni yang dibuat sangat naturalistik. (Purus = Kemaluan laki-laki).


Objek Wisata Wenara Wana (Wenara Wana Object)

Diantara Desa Padang Tegal dan Nyuh Kuning, Kecamatan Ubud, Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar, tepatnya 26 km dari Kota Denpasar, terdapat sebuah hutan kecil yang dihuni oleh ratusan Kera Bali yang cukup jinak dan dapat diajak bermain – main disaat para wisatawan menikmati liburan di kawasan Wisata Ubud, Gianyar Bali.
Selain tempat hidupnya kera Bali, hutan tersebut juga merupakan Kuburan Desa, yang sudah barang tentu di sebelahnya berdiri sebuah pura. Jadi sangatlah lengkap bila para wisatawan mendatangi tempat ini, maksudnya selain bermain dengan kera, wisatawan juga dapat melihat kuburan Bali dan pura dengan arsitektur Balinya. Dan bila tepat waktu sesekali dapat menyaksikan lengkap dengan upacara di pura (odalan) maupun upacara pembakaran mayat (ngaben).


Pura Goa Gajah (Elephant Cave Temple)

Pura goa Gajah terletak di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar. Jaraknya dari Denpasar Kurang lebih 26 Km, sangat mudah dicapai. Disana ada kios-kios kesenian dan Rumah makan. Pura ini di lingkupi oleh persawahan dengan keindahan ngarai sungai Petanu, berada pada jalur wisata Denpasar – Tampaksiring – Danau Batur – Kintamani. Disekitarnya terdapat tempat-tempat bersejarah seperti Yeh Pulu, Samuan Tiga, Gedung Arca, Arjuna Metapa, Kebo Edan, Pusering Jagat, Penataran Sasih dan lain-lain. Namun Goa Gajah belum diketahui asal usulnya secara pasti. Nama ini perpaduan nama Pura Guwa (sebutan masyarakat setempat) dengan nama kuna yang termuat dalam prasasti-prasasti yakni Ergajah dan Lwa Gajah. Nama-nama Anta Kunjarapada dan Ratna Kunjarapada itu dari akhir abad kesepuluh sampai akhir abad ke Empat belas (Negara Kertagama). Kekunaan ini didukung oleh Peninggalan Purbakala. Di pelataran Pura Goa Gajah terdapat Petirtaan Kuna 12 x 23 M2, terbagi atas tiga bilik. Dibilik utara terdapat tiga buah Arca Pancuran dan di bilik Selatan ada Arca Pancuran pula, sedangkan di bilik tengah hanya terdapat apik arca. Lebih kurang 13 meter di sebelah utara Petirtaan terdapat Goa atau Ceruk Pertapaan berbentuk huruf T. Lorong Goa berukuran : lebar 2,75 M, tinggi 2,00 M. Dikiri kanan lorong terdapat ceruk-ceruk untuk bersemedi, jumlahnya 15 buah. Pada ceruk paling Timur terdapat Trilingga dan diujung Barat terdapat Arca Ganeca. Dihalaman Goa Pura Gajah diketemukan pula Fragmen bangunan yang belum bisa direkonstruksi. Tembok keliling menjadi penanggul tebing disebelah Barat pula ini. Lebih kurang 100M disebelah Selatan Petirtaan didapati sisa-sisa Percandian Tebing. Sebagian kaki candi itu masih ada bagian – bagian yang lain telah runtuh ke kaki yang ada didepannya. Sebuah Chatra berpayung 13 tergeletak ditepi kaki itu. Badan candi itu memakai hiasan yang sangat indah. Ada pula bagian Chatra bercabang tiga. Dua buah Arca Budha dengan sikap Dhynamudra diletakkan pada sebuah tahta berdekatan dengan ceruk yang hampir jebol. Berhadapan dengan percandian ini terdapat sebuah ceruk pertapaan pula. Didepan ceruk ini dibangun balai peristirahatan dan sebuah kolam.


Pura Kebo Edan (Kebo Edan Temple)

Di Lingkungan Pura Kebo Edan ini terdapat sebuah Arca Ciwa dalam bentuk Bhairawa menari, yang tingginya 360 cm. Bentuk Arca ini menari di atas mayat dengan hiasan ular, mukanya memakai kedok dan kemaluannya seperti bergoyang. Lingkungan Pura ini juga banyak dikunjungi wisatawan mancanegara maupun wisatawan Nusantara baik yang melakukan penelitian maupun yang hanya ingin melihat-lihat benda-benda peninggalan sejarah tersebut. Di tempat ini juga ditemukan kekunaan lain seperti Arca Raksasa dengan hiasan tengkorak serta beberapa buah arca lainnya bahkan ada yang sudah rusak.


Pura Mangening (Mangening Temple)

Di lingkungan pura ini terdapat Lingga-Yoni dan arca-arca kuno yang telah rusak, sehingga tidak dapat diketahui lagi dengan pasti. Disamping itu terdapat juga sisa-sisa bangunan kuno antara lain : bekas ambang pintu. Lingkungan Pura ini terletak tidak jauh di sebelah utara lingkungan Pura Gunung Kawi Tampak Siring, dan sebelah selatan jalan menuju ke lingkungan Pura Tirta Empul. Jarak dari kota Gianyar 15 km dan dari kota Denpasar 37 km. Tempat ini banyak juga dikunjungi oleh para wisatawan mancanegara melalui jalan setapak menuju lingkungan Pura Gunung Kawi ditepi sungai Pakerisan.
Berdasarkan hasil temuan bekas ambang pintu maka Suaka Sejarah dan Purbakala Bali mulai melakukan pengamatan di lapangan yang kemudian disusul dengan penggalian penyelamatan. Akhirnya usaha ini berhasil menemukan sisa-sisa sebuah bangunan kuno yang diduga berbentuk sebuah prasada, yang mungkin berasal dari jaman Anak Wungsu.


Pura Pagulingan

Di lingkungan Pura Pegulingan ini terdapat sisa-sisa bangunan berupa sebuah stupa besar yang kakinya berbentuk segi delapan. Lokasi Lingkungan Pura Pegulingan terletak di Desa Basang Ambu Desa Manukaya Kecamatan Tampaksiring Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar, tidak jauh di sebelah timur lingkungan Pura Tirta Empul Tampiksiring, serta dekat dengan jalan jurusan Kintamani. Lokasi ini juga ditempuh dari kota Gianyar akan mencapai 10 Km dan bila dari kota Denpasar jaraknya kurang lebih 38 Km.
Pemandangan di Lingkungan ini sangat indah dan Istana Presiden Tampaksiring juga kelihatan indah, serta tempatnyapun sangat strategis sehingga banyak wisatawan yang mengunjungi tempat ini.Lingkungan pura ini baru diketemukan kembali pada tahun 1983 berkat bantuan dari pamong desa setempat. Pengamatan dan penggalian penyelamatan yang dilakukan oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Bali berhasil menemukan sisa-sisa bangunan berupa stupa besar yang kakinya berbentuk segi delapan. Temuan lainnya yang sangat penting ialah sejumlah materi tanah liat yang memuat mantra Agama Budha.


Pura Tirta Empul Tampaksiring (Tirta Empul Temple)

Tampaksiring adalah nama dan sebuah desa yang terletak 36 km dari Denpasar. Pura Tirta Empul sebagai peninggalan Kerajaan di Bali, salah satu dari beberapa peninggalan purbakala yang menarik untuk disaksikan dan diketahui di desa ini. Disebelah Barat Pura tersebut pada ketinggian adalah Istana Presiden yang dibangun pada pemerintahan Presiden Soekarno. Mengenai nama pura ini kemungkinan besar diambil dari nama mata air yang terdapat didalam pura ini yang bernama Tirta Empul seperti yang telah disebutkan diatas. Secara etimologi bahwa Tirta Empul artinya air yang menyembur keluar dari tanah. Maka Tirta Empul artinya adalah air suci yang menyembur keluar dari tanah.
Air Tirta Empul mengalir ke sungai Pakerisan. Sepanjang aliran sungai ini terdapat beberapa peninggalan purbakala. Pendirian pura ini diperkirakan pada tahun 960 A.D. pada jaman Raja Chandra Bhayasingha dari Dinasti Warmadewa. Seperti biasa pura – pura di Bali, pura ini dibagi atas Tiga bagian yang merupakan Jaba Pura (HaLaman Muka), Jaba Tengah (Halaman Tengah) dan Jeroan (Halaman Dalam). Pada Jaba Tengah terdapat 2 (dua) buah kolam persegi empat panjang dan kolam tersebut mempunyai 30 buah pancuran yang berderet dari Timur ke Barat menghadap ke Selatan. Masing – masing pancuran itu menurut tradisi mempunyai nama tersendiri diantaranya pancuran Pengelukatan, Pebersihan, Sudamala dan Pancuran Cetik (Racun). Pancuran Cetik dan nama Tirta Empul ada hubungannya dengan mitologi yaitu pertempuran Mayadenawa Raja Batu Anyar (Bedahulu) dengan Bhatara Indra. Dalam mitologi itu diceritakan bahwa Raja Mayadenawa bersikap sewenang – wenang dan tidak mengijinkan rakyat untuk melaksanakan upacara – upacara keagamaan untuk mohon keselamatan dari Tuhan Yang Maha Esa. Setelah perbuatan itu diketahui oleh Para Dewa, maka para dewa yang dikepalai oleh Bhatara Indra menyerang Mayadenawa. Akhirnya Mayadenawa dapat dikalahkan dan melarikan diri sampailah disebelah Utara Desa Tampak siring. Akibatnya kesaktiannya Mayadenawa menciptakan sebuah mata air Cetik (Racun) yang mengakibatkan banyaknya para laskar Bhatara Indra yang gugur akibat minum air tersebut. Melihat hal ini Bhatara Indra segera menancapkan tombaknya dan memancarkan air keluar dari tanah (Tirta Empul) dan air Suci ini dipakai memerciki para Dewa sehingga tidak beberapa lama bisa hidup lagi seperti sedia kala.


Rimba Reptil Singapadu (Singapadu Jungle Reptile)

Setelah berdirinya Taman Burung Citra Bali International, berselang beberapa saat kemudian di sebelah utara Taman Burung ini berdiri lagi sebuah tempat rekreasi untuk para wisatawan yaitu Rimba Reftil. Rimba Reftil ini memiliki/memelihara beraneka reftilia dari seluruh dunia. Bagi para wisatawan yang menyukai berlibur di dalam habitat reftilia sangatlah tepat bila mendatangi tempat ini. Disamping dapat menyaksikan reftilia secara total, keselamatan diri juga terjamin dari gigitan reftilia yang kita ketahui sebagian besar berbisa.


Taman Burung Citra Bali (Citra Bali Bird Park)

Seiring dengan keindahan panorama Bali semakin banyak investor asing yang ingin mengembangkan usahanya di Pulau Seribu Pura ini. Hal ini terbukti dengan berdirinya sebuah Taman Burung Cirta Bali International di Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar, lebih kurang 12 Km dari Kota Denpasar. Di tempat ini para wisatawan dapat melihat beragam jenis burung baik burung asli Pulau Bali, seluruh Indonesia maupun burung dari Mancanegara.

Related Post



TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Gianyar Bali Regency
Ditulis oleh Lambang Insiwarifianto
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://balihotels-hotel.blogspot.com/2008/10/gianyar-bali-regency.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Post a Comment

Incoming Search: , Gianyar Bali Regency